kaukusnews.id, MAKASSAR – Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Nurdin Halid menyebut ada tiga kader potensial di internal partai beringin memiliki peluang didorong maju pada kontestasi Pilgub Sulsel, November 2024.
Mereka adalah, mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan dan Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani. Di mana ketiga nama ini, telah mendapatkan surat tugas dari DPP Partai Golkar untuk maju di Pilgub.
Adapun figuritas Ketua DPD 1 Partai Golkar Sulsel Taufan Pawe yang juga mendapatkan surat tugas dari DPP maju di Pilgub, Nurdin Halid menilai, mantan Wali Kota Parepare itu sebaiknya fokus di Senayan.
Mengingat setelah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dinyatakan tidak lolos parlemen trheshold 4 persen oleh KPU RI, Taufan Pawe yang merupakan caleg DPR RI nomor 4 Partai Golkar di Dapil Sulsel II, melaju ke Senayan.
“Pak TP cukuplah di DPR. Ada tiga kader Golkar yang sangat potensial. Pak Ilham, Pak Adnan dengan Ibu Indah. Tiga inilah yang akan kita dorong,” tegas Nurdin Halid kepada wartawan.
Adapun, Nurdin Halid, meski telah mendapatkan surat tugas dari DPP Partai Golkar maju di Pilgub, ia lebih memilih memberikan kesempatan kepada figur – figur yang punya kapasitas dan lebih muda.
“Soal Pilgub Sulsel biarlah yang muda – muda, saya beri kesempatan yang muda – muda. Sekalipun survei saya masih di atas, tapi kasih yang muda – muda, kita sudah. Kalau saya mau, pasti saya dapat Golkar. Tidak ada yang bisa menyaingi saya di Golkar. Tapi saya menyadari sekarang ini dibutuhkan pemimpin muda,” ucapnya.
Sementara Ilham Arief Sirajuddin (IAS) mengaku, punya keseriusan ikut bertarung di Pilgub Sulsel. Keseriusannya itu ditandai aktifnya melakukan penyebaran alat peraga kampanye berupa baliho di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
“Pergi mako ukur di Kota Makassar seberapa banyak spandukku, seberapa besar balihoku, itu menandakan bahwa saya serius, itu jawabannya,” ucapnya.
IAS menyebut, meskipun di internal Golkar mencuat sejumlah nama yang punya kans didorong maju di Pilgub, ia tidak khawatir. Terpenting kata dia, tolok ukur pengusungan seberapa besar tingkat elektoral.
“Pokoknya kita bersaing saja, ukurannya di elektoral. Elektoral itu bisa kebaca kalau orang itu memaksimalkan sosialisasinya, tidak mungkin ketika dilakukan survei ada elektoralnya kalau tidak ada sosialisasinya,” imbuhnya.








