Oleh: Andi syahrul, Founder Pakai.AI
“AI akan menggantikan pekerjaan manusia” headline seperti ini bermunculan hampir setiap minggu. Prediksi suram tentang jutaan orang kehilangan pekerjaan karena otomasi dan kecerdasan buatan, Tapi apakah benar demikian?
Setelah melatih lebih dari 500 karyawan dan bekerja dengan 30+ perusahaan di Indonesia, kami di Pakai.AI memiliki perspektif yang berbeda. Bukan dari teori atau proyeksi global, tapi dari pengamatan langsung di lapangan.
Tulisan ini akan menyajikan apa yang benar-benar terjadi ketika perusahaan Indonesia mengadopsi AI, siapa yang diuntungkan, siapa yang perlu beradaptasi, dan bagaimana seharusnya kita menyikapi perubahan ini.
Narasi yang Salah Kaprah
Sebelum membahas temuan dari lapangan, mari luruskan dulu beberapa narasi yang sering salah kaprah.
Mitos 1: AI Akan Menggantikan Semua Pekerjaan.
Realitanya, AI menggantikan tugas, bukan pekerjaan. Seorang analis keuangan tidak digantikan AI. Tapi tugas-tugas repetitif seperti entry data, pembuatan laporan standar, atau kompilasi informasi, itu yang diambil alih AI. Analis tersebut tetap dibutuhkan untuk interpretasi, pengambilan keputusan, dan komunikasi dengan stakeholder.
Mitos 2: Dampak AI Akan Terjadi Mendadak
Transformasi tidak terjadi dalam semalam. Dari pengamatan kami, adopsi AI di perusahaan Indonesia berjalan bertahap: Tahun pertama adalah eksperimen dan pilot; tahun kedua berupa scaling ke lebih banyak departemen; tahun ketiga dan seterusnya yakni ntegrasi mendalam ke proses bisnis. Sebenarnya masih ada waktu untuk beradaptasi, tapi jendela itu semakin menyempit.
Mitos 3: Hanya Pekerja Blue Collar yang Terdampak
Justru sebaliknya. AI generatif seperti ChatGPT dan Claude paling berdampak pada knowledge workers, penulis, analis, programmer, marketer, HR, dan profesional lainnya. Pekerjaan yang membutuhkan keterampilan fisik dan judgment situasional (tukang ledeng, perawat, chef) justru lebih sulit diotomasi. Temuan dari 500+ Karyawan yang kami latih.
Temuan 1: Tidak Ada PHK Massal, Ada Pergeseran Tugas.
Dari 30+ perusahaan yang kami dampingi, tidak ada satu pun yang melakukan PHK massal karena adopsi AI. Yang terjadi adalah pergeseran tugas. Karyawan yang sebelumnya menghabiskan 60% waktu untuk tugas administratif, kini bisa mengalokasikan waktu tersebut untuk pekerjaan yang lebih strategis. Contoh nyata, Tim HR di salah satu perusahaan investasi sebelumnya menghabiskan 2 hari per minggu untuk screening CV, dengan bantuan AI, proses ini menjadi beberapa jam saja. Apakah tim HR dikurangi? Tidak. Mereka kini punya waktu lebih untuk employer branding, employee engagement, dan strategic HR initiatives yang sebelumnya terabaikan.
Temuan 2: Produktivitas Naik, Bukan Headcount Turun
Pola yang kami lihat berulang adalah perusahaan menggunakan AI untuk meningkatkan output, bukan mengurangi input.

Temuan 3: Skill Gap Lebih Mengkhawatirkan dari Job Loss
Ancaman nyata bukan kehilangan pekerjaan, tapi menjadi tidak relevan karena tidak bisa menggunakan AI. Dari survei kami, 57% karyawan mengaku pemahaman AI mereka di bawah rata-rata sebelum pelatihan. Ini adalah skill gap yang serius. Karyawan yang tidak mau atau tidak bisa beradaptasi akan tertinggal bukan karena digantikan AI, tapi karena kalah bersaing dengan rekan kerja yang sudah mahir menggunakan AI.
Temuan 4: Ada Pekerjaan Baru yang Muncul
Adopsi AI menciptakan kebutuhan baru yang sebelumnya tidak ada, misalnyaAI Trainers/Prompters, yang merupakan spesialis yang membantu tim lain menggunakan AI secara efektif; AI Policy Managers, yang menyusun dan mengawasi kebijakan penggunaan AI; Automation Specialists, yang membangun dan memelihara workflow otomatis; AI Quality Reviewers, yang mereview dan memvalidasi output AI.
Di beberapa perusahaan yang kami dampingi, posisi-posisi ini diisi oleh karyawan existing yang di-reskill, bukan hire baru, lalu siapa yang paling Diuntungkan?
1. Karyawan yang Mau Belajar
Ini faktor paling menentukan. Karyawan dengan growth mindset yang mau belajar teknologi baru adalah pemenang terbesar. Usia bukan penghalang. Kami melatih profesional dari usia 20-an hingga 50-an, dan yang membedakan hasil bukan usia, tapi sikap terhadap pembelajaran.
2. Perusahaan yang Investasi pada Training
Perusahaan yang menyediakan pelatihan terstruktur melihat adopsi yang jauh lebih cepat dan hasil yang lebih baik dibanding yang hanya “menyediakan akses tools” Baca lebih lanjut: Pelatihan AI Generatif untuk Perusahaan.
3. Profesional dengan Expertise Domain
AI adalah tools yang powerful, tapi masih membutuhkan expertise manusia untuk menggunakannya dengan benar. Seorang akuntan senior yang memahami nuansa regulasi perpajakan akan menggunakan AI jauh lebih efektif dibanding fresh graduate yang hanya mengandalkan AI tanpa pengetahuan dasar.
Domain expertise + AI skill = Kombinasi yang sangat valuable. Pertanyaannya, siapa yang Perlu Waspada?
1. Karyawan yang Menolak Berubah
Resistensi terhadap teknologi baru adalah risiko karier terbesar saat ini. Karyawan yang bersikeras bahwa “cara lama sudah cukup baik” akan semakin tertinggal seiring adopsi AI yang semakin luas.
2. Peran yang Highly Repetitive
Posisi yang 80%+ tugasnya adalah repetitif dan bisa distandardisasi memang paling rentan. Namun rentan bukan berarti pasti hilang. Lebih sering, peran tersebut berevolusi komponen repetitif diotomasi, sementara karyawan difokuskan pada aspek yang membutuhkan judgment manusia.
3. Profesional Tanpa Diferensiasi
Jika satu-satunya value proposition adalah “bisa melakukan X”, dan X bisa dilakukan AI dengan lebih cepat dan murah, ada masalah. Profesional perlu mengembangkan diferensiasi,yakni expertise mendalam, kemampuan relasional, creative thinking, atau kombinasi skill yang unik.
Rekomendasi untuk Berbagai Stakeholder
Untuk Karyawan Individual, mulailah belajar sekarang, jangan tunggu jendela adaptasi masih terbuka, karena faktanya, itu semakin menyempit. Setiap bulan yang dilewatkan tanpa belajar AI adalah bulan tertinggal dari rekan yang sudah mulai.
Selanjutnya, fokus pada skill yang melengkapi AI seperti Critical thinking, emotional intelligence, creative problem solving, complex communication, ini skill yang sulit diotomasi dan akan semakin valuable.
Kemudian jadikan AI sebagai partner, bukan ancaman. Mindset yang benar itu, Bagaimana AI bisa membuat saya lebih produktif! bukan, apakah AI akan menggantikan saya?
Untuk HR dan People Leaders, lakukan investasi pada reskilling budget training untuk AI skill bukan lagi nice-to-have, tapi kebutuhan strategis. Update job description dan KPI, mulai masukkan “kemampuan menggunakan AI tools” sebagai requirement atau competency yang diharapkan. Terus bangun kultur pembelajaran dan ciptakan lingkungan di mana eksperimen dengan AI didorong, bukan ditakuti.
Pelajari lebih lanjut adalah audit Kesiapan AI untuk Perusahaan
Untuk Business Leaders
1. Lihat AI sebagai investasi produktivitas, ROI dari adopsi AI datang dari peningkatan output, bukan pengurangan headcount. Frame-nya adalah “growth enabler”, bukan “cost cutter”.
2. Mulai dari pilot, scale bertahap, jangan mencoba transformasi big bang. Mulai dari use case kecil, buktikan hasilnya, lalu scale secara bertahap.
3. Alokasikan budget untuk change management, transformasi AI 30% tentang teknologi, 70% tentang manusia. Budget untuk training, komunikasi, dan pendampingan sama pentingnya dengan budget untuk tools.
Untuk Pemerintah dan Regulator
1. Inisiatif AI literacy nasional. Indonesia membutuhkan program nasional untuk meningkatkan AI literacy di seluruh level workforce, bukan hanya di tech sector.
2. Framework regulasi yang balanced. Regulasi yang terlalu ketat akan menghambat inovasi. Terlalu longgar akan menciptakan risiko. Diperlukan pendekatan balanced yang melindungi tanpa menghambat.
3. Dukungan untuk UMKM. Perusahaan besar punya resource untuk adopsi AI. UMKM perlu dukungan khusus agar tidak tertinggal.
Prediksi 3-5 Tahun ke Depan
Berdasarkan tren yang kami amati, berikut prediksi kami untuk lanskap kerja Indonesia:
2026-2027: Adopsi Masif
Mayoritas perusahaan besar dan menengah akan mengadopsi AI dalam berbagai bentuk AI tools menjadi standar di tempat kerja, seperti email dan spreadsheet saat ini skill gap semakin terasa, tekanan untuk reskilling meningkat.
2027-2028: Konsolidasi dan Optimasi
Perusahaan mulai melihat ROI nyata dari investasi AI Best practices terbentuk, adopsi menjadi lebih mature, munculnya “AI-native” generation di workforce.
2029-2030: New Normal
AI menjadi bagian integral dari hampir semua pekerjaan knowledge worker profesional tanpa AI skill akan sangat kesulitan bersaing, pekerjaan baru yang kita belum bisa bayangkan akan muncul.
Jadi, Dampak AI terhadap lapangan kerja Indonesia adalah nyata, tapi berbeda dari narasi apokaliptik yang sering digembar-gemborkan. Dari pengalaman kami melatih 500+ karyawan, AI tidak menggantikan pekerjaan, tapi mengubah tugas
Produktivitas naik, headcount tidak turun, skill gap lebih mengkhawatirkan dari job loss, ada pekerjaan baru yang muncul.
Kunci untuk berkembang di era AI adalah adaptasi proaktif. Mulai belajar sekarang, kembangkan skill yang melengkapi AI, dan jadikan AI sebagai partner produktivitas. Bagi perusahaan, investasi pada pelatihan AI dan otomasi bisnis bukan lagi pilihan, tapi keharusan strategis untuk tetap kompetitif.
Masa depan pekerjaan bukan AI vs Manusia, melainkan masa depan adalah Manusia + AI, dan mereka yang menguasai kolaborasi ini yang akan memimpin.
Tentang Pakai.AI
Pakai.AI adalah konsultan AI untuk perusahaan menengah Indonesia. fokus pada dua pilar: pelatihan AI generatif dan implementasi otomasi bisnis.
Pengalaman kami bekerja dengan 30+ perusahaan dan melatih 500+ karyawan memberikan perspektif unik tentang dampak nyata AI di tempat kerja Indonesia. Ingin mendiskusikan bagaimana AI akan mempengaruhi industri atau perusahaan Anda? Hubungi kami untuk konsultasi.








