Oleh: Bams, Sekum BPL HMI Cabang Makassar
Dalam Pasal 4 Anggaran Dasar HMI, tujuan organisasi ditulis dengan kalimat yang begitu suci dan nyaris surgawi: terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Kalimat itu begitu indah, terlalu indah sampai-sampai hari ini ia lebih pantas dibingkai dan digantung di dinding sekretariat daripada dijadikan pedoman hidup organisasi.
Sebab realitas HMI hari ini justru menjadi antitesis dari cita-cita itu sendiri. Kita bukan sedang berjalan menuju tujuan, melainkan berputar-putar seperti kompas rusak yang jarumnya bergetar tapi tak pernah menunjuk arah.
Untuk sekali ini, marilah kita menyingkirkan epos-epos heroik tentang kejayaan masa lalu HMI, kisah para pendiri, cerita romantik tentang Lafran Pane, dan legenda para senior besar, setidaknya selama satu menit saja. Bukan karena masa lalu tidak penting, tetapi karena sejarah sudah terlalu lama dijadikan narkotika kolektif untuk menghibur, menenangkan, dan membius kita dari kenyataan bahwa organisasi ini sedang sekarat secara perlahan.
Coba jujur sejenak. Sudah berapa lama kita membicarakan kemunduran HmI? Dari warkop ke warkop, dari diskusi ke diskusi, dari forum resmi ke forum bayangan. Kita mengkritik dengan kopi, mengutuk dengan rokok, dan pulang dengan perasaan paling revolusioner, tanpa satu pun tindakan nyata. Solusi bertebaran seperti selebaran kaderisasi, tapi keberanian untuk mengujinya nihil.
Kita terlalu pintar untuk bertindak, dan terlalu pengecut untuk gagal, pada akhirnya pengetahuan kita mandul, beranak-pinak dalam bentuk jargon, bukan praksis.
Padahal sejarah yang bahkan paling kejam sekalipun mengajarkan satu hal perihal gagasan untuk selalu diuji dalam kenyataan.
Kolektivisasi pertanian di Uni Soviet (1928–1940) di bawah Stalin misalnya. Tentang perlawanan, dekulakisasi, dan kelaparan massal, mirip Holodomor yang menewaskan jutaan jiwa. Kita tentu mengutuk Stalin sebagai totaliter. Tapi dari tragedi itu, satu pelajaran pahit tak bisa disangkal, pengetahuan diuji, diterapkan, dipaksakan, dan dievaluasi, meski dengan cara paling mengerikan.
Bandingkan dengan HMI hari ini, gagasan kita bahkan tak pernah sampai ke tahap diuji, apalagi gagal.
Di sisi lain, sejarah gerakan sosial abad ke-20 menunjukkan bahwa perubahan besar justru lahir dari keberanian hidup bersama rakyat. Revolusi EDSA di Filipina contohnya, yang berhasil menggulingkan Marcos tanpa pertumpahan darah, juga revolusi Anyelir di Portugal 25 April 1974 menggema lewat lagu Grandola, Vila Morena, ketika rakyat menyelipkan bunga mawar ke laras senjata tentara, simbol perlawanan tanpa kebencian.
Benar, bahwa Reformasi 1998 di Indonesia berhasil meruntuhkan rezim 32 tahun Soeharto, tetapi setelah itu gerakan sosial kehilangan nyawanya.
Arif Novianto, dalam artikel di IndoProgress (2015), menyebutkan dengan telanjang, “Hilangnya budaya berserikat, berpartai, rapat akbar, aksi, mogok, dan bersuara telah menjadi salah satu penyebab kegagalan era reformasi.” Kalimat ini juga bisa dibaca sebagai batu nisan bagi gerakan mahasiswa hari ini, termasuk HMI.
HMI kini benar-benar kehilangan nyawa pergerakannya, mengambang tanpa arah, seperti kapal besar dengan awak ramai tapi tanpa nakhoda. Lebih ironis lagi, kita dengan sadar membelah kader ke dalam dua kubu yang seharusnya tak pernah dipisahkan, perkaderan dan pergerakan. Seolah-olah di HMI ada dua jenis intelektual, yang pintar bicara di kelas dan yang “kotor” di jalanan.
Meminjam Gramsci, kita pura-pura memilih antara intelektual tradisional dan intelektual organik, padahal seharusnya ruang perkaderan adalah tempat melahirkan intelektual organik sejati, yang sadar kelas, berpihak pada yang tertindas, dan berani melawan ketidakadilan. Di sanalah lima kualitas insan cita seharusnya ditanam, bukan sekadar dihafal untuk lulus jenjang.
Ruang perkaderan hari ini justru disterilkan dari konflik sosial. Ia aman, jinak, dan tidak membahayakan siapa pun, terutama kekuasaan. Kita lalu bersembunyi di balik mantra paling munafik dalam sejarah organisasi, katanya “kita harus realistis.” Padahal realistis bukan berarti tunduk, tapi berpijak pada fakta. Dan sebagaimana diingatkan Peter L. Berger, realitas sosial bukan sesuatu yang sakral, ia dikonstruksi, dipertahankan, dan bisa diubah melalui interaksi manusia. Masalahnya, kita lebih memilih dibentuk oleh realitas ketimbang membentuknya sendiri.
Di HMI, kita punya cita-cita ideal yang jelas dan tertulis. Maka tunduk pada realitas yang tidak ideal bukanlah sikap dewasa, itu sikap budak, bukan manusia merdeka.
Jika HMI masih ingin hidup, ia harus kembali menjadi organisasi yang di setiap sudutnya dipenuhi gagasan, bukan basa-basi. Ide harus menopang langkah, bukan sekadar menghiasi pidato. Jika slogan “Di HMI kita berteman lebih dari saudara” masih ingin dipercaya, maka ia harus dibuktikan dalam keberanian kolektif untuk berubah, bukan dalam kenyamanan kolektif untuk membusuk.
Selamat milad Himpunan kami, semoga usia yang kini bertambah bukan hanya pada angka, tapi juga pada keberanian untuk bercermin, dan tentunya menghancurkan wajah-wajah lama yang tanpa kita sadari sungguh menyesatkan, tapi selalu kita bela.








