kaukusnews.id, MAKASSAR – Tragedi 23 Agustus 2025 kebocoran pipa minyak milik PT Vale di Desa Lioka Kecamatan Towuti sangat di sayangkan dan menuai banyak sorotan dari berbagai, salah satunya dari kalangan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam.
Ketua Badko HMI Sulawesi Selatan, Muhammad Arijal mengatakan insiden ini sangat disayangkan dan berpotensi menimbulkan kerugian dan dampak serius bagi masyarakat sekitar.
Pengujian independen yang dilakukan oleh tim Distater Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) Serta Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur bekerja sama dengan PT Global Enviroment Laboratory guna melakukan investigasi dampak Lingkungan dan sosial.
Sampel Air yang diambil dan di uji memenuhi baku mutu kelas 2 sesuai dengan PP No. 22 Tahun 2021 Lampiran VI dan VII artinya, air layak untuk rekreasi, budidaya ikan air tawar, peternakan, pengairan, pertamanan hingga kebutuhan lain.
Sampel udara yang diambil sesuai dengan baku mutu udara ambien nasional. Menunjukkan kualitas udara masih aman dan tidak menimbulkan resiko kesehatan.
“Meskipun pengambilan sampel dilakukan secara terbuka lalu di uji di laboratorium resmi. Sesungguhnya ini menimbulkan pertanyaan besar, sebab tidak memiliki data pembanding, mengapa hanya satu lembaga laboratorium terakreditasi DLH yang dilibatkan, padahal banyak laboratorium terakreditasi di Makassar.” ucap Muhammad Arijal.
Pernyataan Ketua DRRC UI, menegaskan bahwa hasil uji sahih dan kredibel, Namun HMI Badko SULSEL akan melakukan investigasi langsung pada titik dimana aliran minyak mengalir, juga akan mendatangkan laboratorium yang terakreditasi untuk menguji sampel air.
“Sebab sampai hari ini HMI Badko SULSEL masih pesimis, bahwa hasil yang dilakukan oleh DRRC UI sudah aman. Karena itu, kami akan lakukan langkah investigasi mandiri” tegas Muhammad Arijal.
Sejak berakhirnya masa tanggap darurat 12 September 2025, HMI Badko sulsel akan berkolaborasi dengan beberapa organisasi yang konsen tentang lingkungan hidup. Untuk mengawal kebocoran Pipa PT Vale yang diduga merugikan masyarakat.
“Kami tidak akan tinggal diam, harus ada pengawasan bersama agar dampak lingkungan dan sosial akibat insiden ini tidak diabaikan.” pungkas Putra Daerah Luwu Timur.








